Banyak orang mendengar kata‘ kekudusan’ jadi ciut hati, ataupun‘ keder’ dalam bahasa‘ slang’ Jawa. Terlebih jika dalam obrolan tiap hari, kudus ataupun suci kerap dihubungkan dengan konotasi negatif, misalnya,‘ jangan sok suci’. Sementara itu kekudusan ataupun kesempurnaan di mata Tuhan itu merupakan suatu yang indah, yang harusnya di idamkan oleh seluruh orang, sebab seperti itu sebetulnya yang dianjurkan oleh Yesus sendiri( amati Mat 5: 48). Untuk kita yang telah dibaptis, sebetulnya kita sudah diberikan oleh Allah rahmat dini kekudusan itu,(( Amati Katekismus Gereja Katolik, 1265,“ Pembaptisan tidak cuma mensterilkan dari seluruh dosa, namun sernentak menjadikan orang yang baru dibaptis sesuatu‘ ciptaan baru’( 2Kor 5: 17), seseorang anak angkat Allah( lih. Gal 4: 5- 7); dia‘ mengambil bagian dalam kodrat ilahi’( 2Ptr 1: 4), merupakan anggota Kristus( lih. 1Kor 6: 15; 12: 27),‘ pakar waris’ bersama Ia( Rm 8: 17) serta kanisah Roh Kudus( 1Kor 6: 19).)) yang selayaknya kita pertahankan serta kita tingkatkan( amati postingan: Seluruh Orang Terpanggil buat Hidup Kudus). Makna Kekudusan Dalam Kitab Suci Katolik adalah sebagai berikut
Kekudusan merupakan karakteristik khas Tuhan
Kekudusan merupakan salah satu dari watak utama Tuhan yang jadi karakteristik khas- Nya. Kekudusan merupakan kasih yang sempurna, sehingga kekudusan serta kasih merupakan suatu yang tidak terpisahkan, karena Tuhan merupakan Kudus( Im 19: 2, Lk 1: 49, 1Ptr 1: 15) serta Kasih( 1Yoh 4: 10, 16).
Kekudusan merupakan “hal yang terpisahkan” buat Tuhan
Bila mengacu kepada asal katanya, kekudusan maksudnya merupakan“ dipisahkan”, dalam perihal ini artinya merupakan dipisahkan buat jadi kepunyaan Tuhan. Kekudusan ataupun‘ sanctitas‘ dalam Kitab Suci Vulgata Perjanjian Baru, mengacu kepada kata hagiosyne( 1 Uji 3: 13) serta hosiotes( Luk 1: 75; Ef 4: 24). Kedua kata Yunani ini melaporkan 2 makna kekudusan, ialah: yang berkenaan dengan pembelahan sebagaimana nampak dalam hagios dari hagos, yang mencirikan“ perihal apapun tentang penghormatan religius”( bahasa Latinnya: sacer); serta yang berkenaan dengan apa yang dikuduskan( sanctitus), ialah hosios yang menerima meterai dari Tuhan.(( Sumber: New Advent Encyclopedia, http:// www. newadvent. org/ cathen/ 07386a. htm.))
Kekudusan merupakan kehendak Allah untuk seluruh umat
Kekudusan merupakan kehendak Allah buat kita seluruh( 1Tes 4: 3, Ef 1: 4; 1Pet 1: 16) meski kita memiliki jalur serta status kehidupan yang berbeda-beda. Kita seluruh, terpanggil buat hidup kudus dengan mempraktikkan kasih kepada Tuhan serta sesama( Mat 22: 37- 39; Mrk 12: 30- 31), sehingga kita menggapai kepenuhan hidup Kristiani.(( Amati Lumen Gentium( LG) 40, pula LG 42,“ Hingga seluruh orang beriman kristiani diajak serta memanglah harus mengejar kesucian serta kesempurnaan status hidup mereka.”))
Konsili Vatikan II, di dalam dokumennya tentang Gereja( Lumen Gentium) menyerukan panggilan kekudusan buat seluruh orang yang berkehendak baik:
“…Para pengikut Kristus dipanggil oleh Allah bukan berdasarkan perbuatan mereka, melainkan berdasarkan rencana dan rahmat-Nya. Mereka dibenarkan dalam Tuhan Yesus, dan dalam Baptis iman sungguh-sungguh dijadikan anak-anak Allah dan ikut serta dalam kodrat ilahi, maka sungguh menjadi suci. Maka dengan bantuan Allah mereka wajib mempertahankan dan mengembangkan dalam hidup mereka kesucian yang telah mereka terima. Oleh rasul mereka dinasehati, supaya hidup “sebagaimana layak bagi orang-orang kudus” (Ef 5:3); supaya “sebagai kaum pilihan Allah, sebagai orang-orang Kudus yang tercinta, mengenakan sikap belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah-lembutan dan kesabaran” (Kol 3:12); dan supaya menghasilkan buah-buah Roh yang membawa kepada kesucian (lih. Gal 5:22; Rom 6:22). Akan tetapi karena dalam banyak hal kita semua bersalah (lih. Yak 3:2), kita terus-menerus membutuhkan belas kasihan Allah dan wajib berdoa setiap hari: “Dan ampunilah kesalahan kami” (Mat 6:12). Jadi bagi semua jelaslah, bahwa semua orang kristiani, bagaimanapun status atau corak hidup mereka, dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup kristiani dan kesempurnaan cinta kasih…” (LG, 40)
Baca juga : Makna kekudusan
Baca juga : 10 Perintah Allah menurut sudut pandang Agama Katolik



