Alkisah pada masa penjajahan, Gubernur portugis kedua yang pada saat itu menduduki India mengumpulkan segenap pasukannya dan berangkat menuju Malaka. Tanpa disadari, Alfonso de Albuquerque menjadi orang pertama yang akhirnya mengawali Sejarah Kristen di Indonesia. Saat ia berhasil menaklukkan Malaka dan membangun pelabuhan perdagangan penting di masa itu, maka dimulailah ekspedisi rempah-rempah yang akhirnya membawa Kristen masuk ke Indonesia.
Ekspedisi rempah rempah dimulai dari Malaka menuju Albuquerque. Ekspedisi ini mulanya tiba di Banda, kemudian Maluku, dan pada akhirnya Ternate. Di Maluku, Portugis memantapkan kedudukan sekaligus menyebarkan agama Kristen. Di Ternate, Portugis mendapat izin membangun benteng. Sekelompok pendeta Kristen yang datang bersama Antonio Galvao, kemudian jadi pemimpin Portugis di Maluku, memulai kerja penyebaran agama Kristen atau misionaris mereka.
Salah satu misionaris Katolik di kawasan itu adalah Santo Franciscus Xaverius dari Ordo Yesuit, pastor dari Spanyol yang datang dengan kapal dagang Portugis –kelak dianggap sebagai pelopor penyebaran Katolik di Indonesia. Setelah menaklukkan Malaka, Portugis dapat memonopoli perdagangan sekaligus menyebarkan agama Katolik secara lebih efektif di wilayah timur: Ambon dan Halmahera, Ternate dan Tidore.
Dominasi memunculkan perlawanan dari kerajaan- kerajaan lokal, paling utama Aceh, yang membuat misi tidak dapat menyebar ke daerah barat.“ Misi itu menghasilkan rintangan untuk dirinya sendiri. Kala hegemoni Portugis serta Spanyol di kawasan itu berakhir, dini abad ke- 17, gereja Katolik juga kehabisan pelindung serta daerah,” tulis Jan Bank dalam Katolik di Masa Revolusi Indonesia.
Kehadiran Portugis ke daerah Timur tidak lepas dari mandat Paus Alexander VI yang lewat Perjanjian Tordesillas membagi belahan dunia di luar daratan Eropa. Sisi yang lain, Barat, diserahkan kepada Spanyol. Kedua negeri ini berjumpa di Maluku serta menuntaskan perkara melalui Perjanjian Saragossa sehingga tiap- tiap dapat senantiasa meraup bumbu.
Walaupun Portugis pada mulanya merahasiakannya, jalur yang mengarah pada kepulauan bumbu tersebut akhirnya tersingkap berkat novel Itinerario karya Jan Huygen van Linshoten, seseorang pengelana serta orang dagang Belanda, pada 1595. Suatu industri Belanda, Compagnie van Verre, membiayai ekspedisi ke Nusantara yang dipandu Cornelis de Houtman. Pada 1596, mereka mendarat di Pelabuhan Banten. Kunjungan awal tidak sukses. Dikirimlah lagi ekspedisi dagang yang dipandu Jacob van Neck, van Heemskerck, serta van Waerwijck. Kali ini mereka menemukan simpati penguasa Banten serta kembali ke negerinya dengan muatan penuh, sedangkan kapal yang lain meneruskan perjalanannya ke Maluku. Sehabis tercipta Kongsi Dagang Belanda( VOC), mereka menancapkan dominasi dagang, apalagi kekuasaan, di Nusantara.
VOC menunjang Protestan serta mengambil- alih jemaah Katolik di kawasan timur Indonesia. Cuma di Flores Katolik terus tumbuh. Protestan sendiri, yang jadi anak emas sepanjang masa VOC, hadapi masa produktif.
Kehadiran Portugis dan juga pasukan Belanda ke Nusantara tak hanya semata terdorong oleh kebutuhan pencarian bumbu tetapi pula kejayaan serta kemauan menyebarkan agama Kristen–dikenal dengan gold, glory, gospel.
Dari Malaka hingga Majapahit
Asumsi kalau Kristen datang bersama kehadiran orang- orang Eropa ke Nusantara seketika menemukan sangahan baru. Pada 1969, J. Bakker SJ menulis di majalah Basis kalau agama Katolik telah terdapat pada abad ke- 7 Meter serta berakar di Sumatera Utara kemudian menyebar ke wilayah lain, tercantum Jawa. Dengan memakai sumber- sumber Islam, ia meyakini pula kalau Katolik tiba dari India Selatan.
Bermula dari Santo Thomas yang mewartakan Injil sampai ke India Selatan. Katolik tumbuh di India Selatan serta melalui perdagangan menyebar ke Sumatera Utara. Gereja Kristen Katolik mulai ditanam di wilayah Tapanuli saat sebelum tahun 600 oleh saudagar dari India yang menamakan diri Thomas Christians.
Jan Baker mengawali teorinya dengan didasarkan pada tulisan ilmuwan Islam bernama Shaykh Abu Salih al- Armini, yang menulis semacam novel ensiklopedi bertajuk Tadhakkur fiha Akhbar min al- Kana’ is wa’ l- Adyar min Nawahin Misri w’ angkatan laut(AL) Iqtha’ aihu berisi catatan gereja serta pertapaan di Mesir serta daerah Timur yang lain. Dalam bukunya, Abu Salih menyebut di Fansur, tempat asal kamper, ada sekelompok Kristen Nestorian serta suatu gereja yang dipersembahkan kepada Maria. Inilah yang kesimpulannya jadi dini pertumbuhan Sejarah Kristen Di Indonesia
Baca juga : Lahirnya Agama Kristen di Dunia
Baca juga : Lagu Rohani Kristen



