Renungan Kristen September 2020

Renungan Kristen September 2020 ini disadur dari Renungan Air Hidup September 2020. Harapannya anda dapat membaca dan memahami renungan ini sebagai awal kontemplasi kehidupan sehari-hari. Silakan menikmati.

Renungan 1

Baca:  Yeremia 17:1-18

“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!”  Yeremia 17:7

Tak bisa dipungkiri, goncangan di segala bidang sedang melanda kehidupan manusia di dunia.  Hal ini menyebabkan banyak orang menjadi takut, iman terguncang, dan mulai kehilangan pengharapan.  Orang Kristen pun yang awalnya begitu semangat melayani Tuhan dan memulai segala sesuatu dengan roh lambat laun semangatnya mengendur, bahkan bisa jadi mereka tidak lagi hidup dalam roh, tapi hidup dalam daging  (Galatia 3:3).

Firman Tuhan menegaskan sekalipun dunia bergoncang, setiap kita yang hidup di dalam Kristus  “…menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan,”  (Ibrani 12:28).  Tuhan Yesus telah menerima segala kuasa di bumi dan di sorga, karena itu tidak ada yang tak mungkin bagi-Nya.  Tak perlu takut menghadapi goncangan sebab Tuhan yang menopang dan melindungi kita;  penyertaan Tuhan atas orang percaya takkan pernah berakhir  (sampai kesudahan zaman).  Sekalipun keadaan dunia serba tidak menentu, bagi orang yang hidup mengandalkan Tuhan ada pengharapan yang pasti:  “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.”  (Yeremia 17:7-8).

Orang yang hidup mengandalkan Tuhan pasti dibuat  ‘berbeda’  oleh Tuhan, sehingga tak perlu takut pada musim-musim kering.  Hidup mengandalkan Tuhan berarti tidak lagi hidup mengandalkan diri sendiri  (kekuatan, kepintaran, kekayaan, kedudukan).  Pemazmur mengingatkan kita ini adalah debu  (Mazmur 103:14)!  Segala hal yang melekat pada kita takkan mampu menolong kita dari goncangan dunia, sebab semuanya serba terbatas, termasuk umur kita juga ada batasnya.  Begitu pula semua yang ada di dunia ini bersifat fana, pada akhirnya akan berakhir.  Oleh karena itu tidak ada jalan lain selain kita harus seperti akar yang terus mendekat dan melekat pada sumber air.  Sumber air itu firman Tuhan, itu adalah Tuhan Yesus sendiri  (Yohanes 7:37-38, Yohanes 1:1).

Kunci untuk bertahan di tengah goncangan dunia adalah hidup mengandalkan Tuhan!

Renungan 2

Baca:  Yohanes 6:25-59

“Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal,…”  Yohanes 6:27

Tuhan rindu anak-anak-Nya turut ambil bagian dalam pekerjaan-Nya di muka bumi ini, bukan bermalas-malasan atau berpangku tangan saja.  Mengapa kita harus bekerja?  Karena  “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.”  (Yohanes 5:17), dan bila saat ini kita sudah dipercaya Tuhan untuk melayani Dia dan menjadi mitra kerja-Nya itu bukan karena kita mampu dan hebat, tapi karena kasih karunia Tuhan semata.

Kita bisa belajar dari rasul Paulus, yang menyadari jika ia dipercaya untuk melayani pekerjaan Tuhan itu bukan karena siapa dia, melainkan karena kasih karunia Tuhan yang menyertainya  (1 Korintus 15:10).  Kasih karunia adalah ketika kita menerima sesuatu dari Tuhan bukan karena kita ini layak mendapatkannya.  Karena beroleh kasih karunia dari Tuhan-lah rasul Paulus pun tidak bekerja secara asal-asalan, melainkan bekerja sedemikian rupa.  Tuhan mencari  ‘pekerja-pekerja’  seperti rasul Paulus yang bekerja ekstra dan penuh totalitas, bekerja bagi kerajaan-Nya tanpa menggerutu, tanpa keluh kesah, tanpa pemungutan.  Selagi kita masih bernafas mari kita bekerja bagi Tuhan, karena hidup ini adalah sebuah kesempatan:  “Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.”  (Yohanes 4:35),  “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.”  (Matius 9:37).  Diperhadapkan dengan tantangan hidup yang berat tak menyurutkan semangat Paulus untuk memberitakan Injil, karena ia percaya bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan  (Roma 8:28).  Kita bisa bekerja bukan karena kekuatan kita tapi karena kuasa Tuhan yang bekerja di dalam kita.  Setiap orang yang bekerja pasti mendapatkan upah, apalagi kita yang sudah berjerih lelah bekerja di ladang Tuhan, upah pasti disediakan-Nya.

Patut diperhatikan adalah motivasi hati kita dalam bekerja!  Jangan sampai motivasi kita salah saat bekerja di ladang Tuhan:  mencari keuntungan, mencari pujian dan penghormatan dari manusia.  Kita harus makin kecil dan Tuhan yang harus makin besar!  Dan apapun yang Tuhan percayakan kepada kita, kerjakan dengan sepenuh hati!  “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya,…”  (2 Timotius 4:2).

Biarlah roh kita selalu menyala-nyala dalam melayani pekerjaan Tuhan!

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *