Pernikahan Katolik Saat Corona yang Menimbulkan Perbedaan Pendapat

Pernikahan Katolik Saat Corona yang Menimbulkan Perbedaan Pendapat

Pernikahan Katolik saat Corona menjadi sebuah perbincangan. Bagaimana kira-kira pemerintah dan gereja dalam menanggapinya. Di tengah serangan virus Corona yang mewabah di Indonesia dan seluruh dunia, banyak rencana-rencana yang terhambat atau bahkan gagal.

Gereja dan pemerintah diharapkan dapat sejalan dalam menyikapi kondisi sulit ini. Di awal wabah merebak, sudah ada gereja yang menunda acara seperti pesta-perta, pernikahan serta pemberkatan apapun yang mengharuskan banyak orang untuk berkumpul.

Pemerintah dan pihak gereja kala itu tidak ingin muncul klaster baru yang berasal dari gereja. Namun, setelah beberapa waktu berjalan rencana-rencana new normal mulai digaungkan. Sehingga lambat laun mulai terjadi adaptasi dari pihak gereja.

Momen Bahagia dengan Keterbatasan Protokol di Indonesia

Sejalan dengan keputusan dari Kementerian Agama yang mengizinkan rumah ibadah digunakan kembali untuk melangsungkan pernikahan Katolik saat Corona. Penyelenggaraan pernikahan wajib menerapkan aturan protokol kesehatan sebagai langkah pencegahan penyebaran virus ini.

Penyelenggaraan pernikahan ini sebenarnya telah diatur di dalam Surat Edaran Nomor 15 tahun 2020 tentang Panduan Penyelenggaraan Kegiatan Keagamaan di Rumah Ibadah dalam Mewujudkan Masyarakat Produktif dan Aman Covid -19 di Masa Pandemi.

Sebelumnya, gereja Katolik juga telah menyetujui dan senantiasa mendukung pelaksanaan seluruh kebijakan pemerintah di awal wabah ini merebak. Misa harian, mingguan hingga semua kegiatan peribadatan yang membuat banyak orang berkumpul telah ditiadakan. Seluruh keuskupan di Indonesia telah mengimbau dari tingkat paroki hingga ke lingkungan dan wilayah kala itu.

Meski dalam kondisi pandemi, pernikahan Katolik saat Corona di Indonesia tetap dapat berlangsung setelah masa Paskah selesai. Terpantau di salah satu gereja Katolik, pasangan yang menikah diwajibkan memakai masker. Bahkan, jika perlu ditambah dengan pelingdung wajah transparan atau faceshield. Imam juga diharuskan memakai berbagai alat pelindung.

Kementerian Agama Republik Indonesia mengatur jumlah tamu yang diperbolehkan hadir dalam rumah ibadah, yaitu maksimal 22-30 orang. Bahkan ada gereja Katolik yang hanya mengizinkan lima orang tamu saja. Ini tentu memperlihatkan gereja Katolik yang sangat berhati-hati.

Pasalnya, gereja Katolik hampir tiga bulan lebih tidak mengadakan perayaan ekaristi. Dapat dikatakan, sakramen pernikahan menjadi salah satu momen pertama aktivitas peribadatan. Nuansa berbeda dari pernikahan Katolik saat Corona tentu menjadi peristiwa yang bersejarah bagi tiap pasangan.

Pernikahan Katolik Saat Corona yang Menimbulkan Perbedaan Pendapat
Pernikahan Katolik Saat Corona yang Menimbulkan Perbedaan Pendapat

Baca juga : 7 Sakramen Yang Ada Dalam Gereja Katolik

Singapura Kontra Terhadap Pemberkatan Perkawinan Online

Di Singapura telah ada undang-undang baru yang mengatur tentang pernikahan di masa pandemi. Undang-undang tersebut memungkinkan pasangan untuk melaksanakan pernikahan secara resmi melalui video (online). Ini dilakukan dengan maksud memudahkan akses dalam melaksanakan pernikahan.

Namun, Keuskupan Agung Singapura menolak tawaran tersebut. Gereja pun menegaskan tentang pentingnya merayakan sakramen pada pernikahan Katolik saat Corona dengan adanya interaksi fisik antara mereka. Gereja Katolik di Singapura tetap menghargai upaya pemerintah dalam memberi ruang.

Keuskupan Agung di Singapura menyatakan bahwa umatnya harus menunggu apabila ingin melaksanakan sakramen pernikahan. Pihak keuskupan telah memublikasikan pemberitahuan tersebut kepada seluruh umat Katolik. Meskipun Singapura negara yang kecil, namun umat Katoliknya mencapai sekitar 300.000 jiwa.

Mereka menekankan bahwa agar pernikahan dapat dianggap sah maka selain dihadiri kedua belah mempelai perlu kehadiran pula dari dua saksi dan imam tentunya. Menurut pihak keuskupan, internet hanyalah sarana untuk menjangkau diluar keluarga inti, yaitu teman-teman dan keluarga besar.

Hal ini sebagai cara pemenuhan persyaratan kanonik. Dengan memberikan makna spiritual kepada sepasang mempelai di hari pernikahan mereka. Tentu banyak pertimbangan yang membuat mereka memutuskan hal ini.

Sikap-sikap gereja Katolik dalam menanggapi pernikahan tentu berbeda-beda, namun tetap satu komando. Uraian di atas membuktikan bahwa setiap lapisan masyarakat mencobah mematuhi protokol yang ada. Gereja Katolik tentu terus berbenah dan mempersiapkan adaptasi terhadap keadaan pandemi ini salah satunya terkait pernikahan Katolik saat Corona.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *